Paradoks Sekolah Lima Hari
Paradoks Sekolah Lima Hari
SEKOLAH
di Indonesia selama ini berlangsung enam hari, dari Senin sampai Sabtu,
kendati ada sekolah-sekolah swasta yang menerapkan lima hari. Pun
dengan hari kerja para orangtua, sama dengan hari sekolah. Kita melihat
bahwa anak-anak di Indonesia seperti disibukkan dengan belajar secara
formal di sekolah atau lembaga pendidikan nonformal. Dengan sekolah enam
hari, anak-anak masih dituntut les pada sore dan malam hari. Itu
dilakukan karena dirasa anak belum bisa memahami sepenuhnya materi
pelajaran di sekolah.
Dari situ muncul fenomena betapa
berharganya hari Minggu sebagai libur yang akan disambut anak-anak
dengan gembira. Terlebih tanggal merah (hari libur) tidak terjadi pada
Minggu, terutama pada akhir pekan. Minggu sering disebut hari keluarga
karena pada hari itu anak dan orangtua bisa memiliki waktu bersama
sehari penuh yang dimanfaatkan untuk liburan, jalan-jalan, atau
menghadiri kondangan.
Karena itu, muncul wacana sekolah lima
hari sebagaimana ada juga kerja lima hari. Sebagai wacana, sekolah lima
hari akan selalu menarik. Asumsinya ialah meski berlangsung enam hari,
pelajar masih melaksanakan pelajaran tambahan, seperti les pelajaran
atau bakat-minat yang tidak difasilitasi sekolah siswa bersangkutan.
Ekstrakurikuler yang diselenggarakan
dirasa belum cukup membuat anak mempunyai kemampuan yang mumpuni sesuai
dengan bakat dan minatnya.
Salah satu pemerintah daerah yang coba
menerapkan sekolah lima hari ialah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.
Dia mengeluarkan Surat Edaran bernomor 420/006752/2015 tentang
Penyelenggaraan Pendidikan pada Satuan Pendidikan di Jawa Tengah.
Pelaksanaan dilakukan pada SMA dan SMK di Jawa Tengah. Meskipun bukan
paksaan, kebijakan itu menuai kontroversi, bahkan ada kelompok
masyarakat yang menolaknya. Sekolah lima hari yang ditawarkan Ganjar
Pranowo belum menemukan formulasi yang baku. Wacana sementara masih
menggunakan kurikulum lama, hanya waktu belajar diperpanjang sampai
pukul 16.00 WIB. Tidak lupa dengan pemenuhan hak-hak pelaksanaan ibadah
dan pengajaran agama seperti sekolah fullday yang banyak diterapkan sekolah-sekolah swasta.
Sekolah sore
Pelaksanaan sekolah lima hari
bertentangan dengan kebiasaan masyarakat, terutama di perdesaan.
Faktanya, ada sekolah sore (madrasah diniah) di bawah LP Ma’arif NU,
ataupun TPQ (taman pendidikan Alquran) yang diselenggarakan secara
swadaya oleh masyarakat yang tidak bisa kita sampingkan. Itu masih
ditambah anak-anak mengaji di masjid atau di musala selepas salat
magrib.
Di kompleks perumahan pun banyak TPQ
yang biasanya menggunakan teras masjid sebagai tempat belajar. Ini
menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat tentang pendidikan
agama untuk anak-anak. Yang patut cukup disesalkan, kesadaran itu hanya
dilakukan untuk anak-anak usia SD. Setelah menginjak usia SMP dan SMA,
mereka tidak lagi belajar di TPQ atau madrasah diniah. Padahal, pembelajaran agama untuk anak usia SD di TPQ dan madin hanya bersifat pengenalan dasar agama.
Sekolah sore pada masyarakat perdesaan
ialah soal kultur yang berjalan turun-temurun, menjadi identitas dalam
melaksanakan moda pendidikan agama. Peran masyarakat seperti itu mesti
diapresiasi dan dihormati pemerintah karena membantu penyelenggaraan
pendidikan agama di Indonesia. Di perdesaan, akan mudah kita temukan
ustaz atau guru agama yang ikhlas mengajar di madrasah tanpa bayaran,
semata demi menjaga keberlangsungan pendidikan agama Islam di
masyarakat. Gedung pun dibangun dari hasil swadaya masyarakat dengan
bantuan desa atau anggaran pemerintah.
Kalau alasan sekolah lima hari bertujuan
memajukan pendidikan karakter, yaitu agar anak memiliki waktu lebih
banyak dengan keluarga, perlu kita kaji lagi.
Pendidikan karakter bukan hanya bisa
dipenuhi keluarga. Banyak aspek yang bisa menjadi medium pendidikan
karakter. Salah satunya interaksi dengan orang-orang di lingkungan anak.
Sekolah sore memungkinkan anakanak bergaul dengan teman-temannya yang
beda sekolah pada pagi hari.
Pendidikan karakter tidak hanya
bersumber dari keluarga, tapi juga nilai-nilai agama yang diajarkan di
sekolah diniyah dan TPQ. Nilai-nilai agama tidak semata berkaitan dengan
ubudiah, tapi juga pelajaran akhlak (etika, budi pekerti) pada
orangtua, masyarakat, dan negara. Sekolah lima hari dari pagi sampai
sore akan mengambil jam dan kesempatan anak-anak belajar di sekolah
agama atau sekolah sore.
Penyamaan hari libur
Sekolah pagi dan sore selama ini seolah
berjalan sendiri-sendiri dengan peraturan dan kebijakan masing-masing.
Misalnya, soal pemilihan hari libur yang berbeda antara sekolah pagi dan
sore. Sekolah pagi menjadikan Minggu sebagai hari libur, mengikuti
kalender Masehi dan pemerintah. Sementara itu, madrasah diniah sore biasanya mengambil libur Jumat sore karena merupakan hari umat Islam.
Faktor ini sedikit banyak membuat
sebagian anak-anak ada `malas’ sekolah sore karena waktu mereka bebas
sekolah hanya setengah hari. Dengan waktu sekolah seperti ini, anak
hanya punya waktu luang sekolah pada Jumat sore dan Minggu pagi. Itu pun
jika sekolah pagi tidak meng gelar ekstrakurikuler pada Jumat sore.
Artinya, Jumat sore yang semestinya bisa jadi hari libur, tetap diisi
dengan kegiatan di sekolah pagi. Betapa sibuknya anak-anak dengan
kegiatan sekolah.
Kalau memang alasan anak dekat dengan
keluarga penting, perlu adanya kesesuaian waktu antara sekolah pagi dan
sekolah sore. Terutama kesamaan hari masuk dan libur. Dalam hal ini,
sekolah diniah sore yang mengambil hari libur Jumat sore bisa
menggantinya dengan menetapkan Minggu sebagai hari libur. Sebagaimana
banyak MI, MTs, dan MA di bawah Kementerian Agama yang menjadikan Minggu
sebagai hari libur. Hal ini bertujuan mengantisipasi kalau sekolah pagi
akan menyelenggarakan kegiatan pada Minggu, misalnya karya wisata.
Kita patut khawatir, ketika anak sekolah
lima hari, Sabtu dan Minggu justru digunakan untuk liburan ke luar
kota. Pasalnya, sekolah lima hari, dari pagi sampai sore, telah menyita
banyak waktu anak-anak sehingga liburan akhir pekan akan mendapatkan
pembenarannya. Orangtua dan anak yang bekerja dan sekolah lima hari
sama-sama akan menyambut akhir pekan dengan gembira. Anak-anak akan
berpotensi membolos sekolah sore selama dua hari karena liburan keluarga
ini.
Dengan sekolah lima hari, anak-anak
mungkin akan menjadi lebih dekat dengan keluarga. Namun, itu mesti
dibayar mahal dengan ketidakdekatan anak-anak dengan lingkungan.
Pendidikan karakter semestinya bergerak pada ranah keluarga, lingkungan,
masyarakat, serta agama. Integrasi ketiganya akan mencetak generasi
muda yang nasionalis-religius.
Junaidi Abdul Munif ; Direktur el-Wahid Center, Semarang
0 comments